BERBAGI OPINI; What’s a FoMO?

BERBAGI OPINI; What’s a FoMO?

 

                                 


Hello everyone! 

Apa yang kalian tangkap dalam diri kalian ketika mendengar kata FoMO? makanan kah? hewan? tumbuhan? atau yang lain? 

No, itu bukan mereka. Mungkin kata ini amat sangat asing buat kalian, mungkin juga ada yang sudah familiar dan paham betul dengan kata "FoMO" ini tapi masih sering dilakuin di kehidupan sehari-hari nya.

FoMO (Fear of Missing Out) adalah ketakuan akan ketinggalan, ketinggalan berita, ketinggalan pergaulan, ketinggalan segala hal yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. FoMO Sebuah syndrome social yang hampir terjadi dikalangan masyarakat, khususnya kaum milenial (termasuk gua). Kalo dipersempit nih FoMO memiliki arti yaitu "takut ketinggalan/kurang update". Kata ini udah dicantumkan di Oxford English Dictionary sejak 2013 silam.  It's valid.

Iya takut ketinggalan segala hal seperti ingin terlihat lebih exist in front of your friend, having perfect life, bisa senang-senang, sedangkan itu gabisa sepenuhnya kita rasain ataupun kita lakuin. Setelah dipahami lebih dalam lagi syndrome social' FoMO ' ini berpotensi tinggi untuk merusak diri kita. 

Menurut Devoreaux Walton seorang ahli Etiket modern dan pendiri The modern Lady, menulis dalam Bustle bahwa, "FOMO adalah rasa tekanan teman sebaya yang dapat mendorong orang untuk melakukan sesuatu yang mereka tidak benar-benar ingin lakukan karena cocok dan mengikuti kerumunan lebih diinginkan." 

Maksudnya adalah ketika kita ingin melakukan sesuatu, hal tersebut bukan didasari oleh kebutuhan atau keinginan hati tetapi hal tersebut dilakukan hanya karna "ikut-ikutan" aja soalnya teman juga melakukan hal tersebut. 

Terus gimana sih FoMO ini bisa berkerja di kehidupan kita? atau gimana kita mengetahui kalo ternyata selama ini memang FoMO telah berdampingan dengan diri kita?  

actually, FoMO ini hadir ketika kita dihadapi pada situasi yang emosional. Mostly/ kebanyakan FoMO dihasilkan karena social media. Dimana ketika kita membuka social media kita seperti Instagram, Twitter, Facebook atau lainnya terus scrolling-scrolling and then kita merasa banyak orang diluar sana memiliki kesenangan tetapi kita ko engga bisa kaya mereka dan gabisa ikut merasakan kesenangan yg mereka miliki. 

Nah dari ketakutan-ketakutan tersebut sudah bisa dikatakan bahwa' we are dealing with the FoMO'. Seperti yang gua bilang diawal kalo ini berpotensi merusak diri kita, karna kita lebih peduli dengan apa yang ada di social media bukan apa yang ada pada dunia nyata/ real life.

Kata-kata yang sekira nya terlintas difikiran kalian dan bisa menimbulkan si FoMO ini; 

“eh dia lagi kesana jadi pengen”“ih pengen kaya dia deh bisa ngumpul bareng temen terus”, “apa cuma aku yang hidup nya engga bahagia kaya orang lain?”, "pengen ikut juga gue tuh''. Ini baru sebagian dari sekian banyak kalimat akan ketakutan ketinggalan.

Sekarang waktunya kita rubah semua kalimat diatas yang kadang-kadang tanpa disadari keluar dari mulut kita. Bagaimana?

1. BERSYUKUR. Selalu dan selalu.  Ini penting banget nget. bersyukur atas apa yang kamu miliki saat ini daripada kamu menghitung dan mencari terus menerus apa kekurangan mu. 

2. Hindari terlalu lama menggunakan media social. Maksudnya bukan kalian tidak boleh chatting dll melalui media sosial, bolehh tetapi hanya saja membatasi dan mengurangi menggunakan nya. Karena  social media sebenernya salah satu pemicu terbesar yg bisa menimbulkan ketakutan ini. Terlalu sempit apabila kita menilai seseorang hanya melalui media.

3. Jangan mudah merasa kalo diri kamulah yang paling kurang diantara semua orang. Kasih pikiran dan energi kita dengan hal-hal positif. Ga perlu lagi melihat segala kelebihan orang lain, karena bisa jadi banyak kelebihan dari diri kita yang gabisa bahkan engga dimiliki oleh satu orang pun di dunia ini.

Ada beberapa pesan atau kesimpulan yang harus di highlight yaa buat kalian;

FoMO dose'nt make you exist anymore. Karena kalo kalian terus-terusan ngelakuin hal ini percaya atau engga kalian gaakan bahagia, yang ada cuma menimbulkan pressure dari diri kalian untuk ngelakuin hal yang sebenernya engga penting&pengen kalian lakuin (foya-foya) aja. 

jangan menyusahkan diri kalian untuk kebahagiaan orang lain. You can’t always be everywhere with everyone at the same place or same time. You set your own standard of happiness, and have the mental freedom to achieve it. Tapii, memiliki FoMO engga selalu berarti buruk. Hanya aja kadang ini bisa jadi indikator kalo prioritas kita mungkin ada di tempat yang salah dan kita perlu mundur jika sudah berada di tempat yang salah.

Dengan kita lebih tau dan paham mengenai FoMO, kita akan lebih menghargai kehidupan dan diri sendiri untuk kedepannya. Buat kehidupan kalian lebih berarti, and one thing; semuanya kembali pada diri kalian masing-masing masih mau hidup berdampingan dengan social syndrome ini atau engga :)

 

that's all

Terimakasih telah membaca.

Posting Komentar

0 Komentar