Hello everyone,
Di tulisan sebelumnya, gua pernah bahas tentang sebuah syndrome yang bernana FoMO. Nah untuk kedua kalinya gua membahas lagi mengenai sebuah syndrome tapi dalam sebuah hubungan yang udah pasti banget itu pernah terjadi sama diri kita. Asli.
Seperti yang kalian lihat di judul, sebagai prolog gua mau tanya diantara kalian pasti pernah ketika sedang dalam fase PDKT atau punya hubungan sama seseorang selalu berfikir bahwa "Si Doi" ini satu-satunya orang buat diri kalian? iya bukan? Beharap bahwa dia adalah salah satu orang yang akan menjadi masa depan kalian. Kalo pernah ngerasa kaya gituu itu artinya kalian terjebak dalam sebuah syndrome “He/She is the one”.
So, let's discuss about it
Syndrome he/ she is the one adalah sebuah gangguan berharap kepada gebetan ataupun pasangan sendiri. Syndrome secara ga langsung mulai aktif ketika kita merasa kalo pasangan saat itu adalah pasangan yang terbaik, the one and only, pasangan yang gaada duanya lah pokonya. Padahal kenyataan nya? Engga tau kan?
Parah nya lagi ini juga bisa kebawa sampe kalian putus hubungan.
Syndrome ini terjadi ketika kalian berasumsi lebih tentang dirinya lalu ekspektasi otak kalian tentang dirinya mulai meninggi, kalian berusaha mencocok-cocokkan apapun dengan dirinya, dan sampe pada tahap mengkhayal hidup bahagia sama dia. Yang sebenernya belom tentu semua apa yg ada dipikiran kalian tentang dia itu terjadi dan ada pada diri dia. Karna gini, pada saat kita bilang dia adalah satu-satunya itu sebenernya kita hanya tertarik secara mental, fisik ditambah emosional kita. Jadi kalo kita bertanya pada diri sendiri, apakah dia "orang" yang tepat atau apakah dia satu-satunya, coba deh untuk engga ngebebanin kata "satu". Karna pada akhirnya ketika hubungan itu berakhir secara ga langsung kita akan menemukan "satu" yang lain. Coba nih serapin kata-kata ini; What's come after "the one"? yaa the next one. Maksudnya apatuh?
Maksudnya itu kalian belum bisa bilang bahwa "dia" adalah satu-satunya. Karna nanti pas dititik hubungan itu berakhir, yang terjadi selanjutnya adalah kita menemukan si dia yang lain yang katanya "satu-satunya" untuk diri kalian. Bisa dipahami? wkwk
Bahkan ada sebuah tulisan kaya gini; Kita bahkan butuh waktu 2 tahun untuk menjalani hubungan sebelum memutuskan kalo dia adalah satu-satunya. Nah lhoo. Gimana sama yang hubungan nya baru 4-6 bulan? Udah mau bilang dia satu-satunya?
Sebenernya ini kembali ke diri kita masing-masing sih. Soalnya syndrome ini bisa dirasakan pas kalian punya sebuah relationship. Yang perlu dipahami ketika kita memutuskan mau punya pasangan itu didasari atau dilandaskan oleh apa, what’s your motivate? sebagai support system kah, cuma pengen pacaran aja, atau emang kita deket dengan dia karena pengen punya kehidupan lanjut (membangun masa depan dengan dia) atau yang lainnya.
Gapapa gaada yang ngelarang kalo alesan-alesan lainnya ada di bagian hidup kalian. Tapi yaa kalo suatu saat punya pasangan sebenernya status itu subjektif, tergantung kalian mau menyebut nya apa. Apakah teman tapi mesra, hubungan tanpa status, backstreet dan segala macem. Karena sebenernya yg dibutuhkan dalam sebuah pasangan itu adalah kedekatan (intimate).
Why intimate? Kalo denger kata ini, intimate bukan kaya hubungan “sexuality” yaa. Big no!
Intimate dalam hubungan itu maksudnya you are part of me, and I am part of you (sebagian diri dari diri lu ada di dia) intinya gitu. Tapi, kalo satu orang doang yang ngerasa intimate sementara pasangannya ga ngerasa intimate, ya itu ga bisa dibilang intimate relationship itu bisa dibilang bertepuk sebelah tangan hehe. Itu kenapa intimate ini sangat penting dalam sebuah hubungan.
Biar ngurangin syndrome kaya gini sih cara lebih baik yaitu kita gausah terlalu berharap banyak dari diri si doi, gausah ngarep lah pokonya. Maksudnya kalo kita terlalu berlebihan berharap atau berkhayal sesuatu sama dia, yang ditakutkan itu pertama cuma bikin kalian sakit hati, yang kedua kita malah jadi jatuh cinta sama ekspektasi/imajinasi yang kita buat di dalem otak bukan sama realita yang ada, gituu wkwk.
Last but not least, salah satu alasan kenapa gua membahas tentang ini karna syndrome ini bakal mendarah daging kalo engga segera di cut, atau engga dikasih bates sama diri kita.
Katanya jodoh itu probabilitas, jadi kalo udah terjadi dan ketemu berusahalah untuk mencintai pasangan dalam segala kondisi dirinya (plus minus nya) ok?. Jangan cuma suka atau cinta sama ekspektasi yang otak kalian buat yang padahal atau kemungkinan besar diri dia engga sepenuhnya seperti itu. Don’t you raised your standard so high. Jangan berekspektasi terlalu jauh, nanti yang ada cuma menimbulin rasa kecewa aja karna ternyata dia engga sesuai apa yang kita pikirin.
Kalo emang masih mau sendiri it’s go for you. Lagian kita harus bisa bahagia dulu ketika sendiri. Karna menurut gua gini, kalo emang punya pasangan tp susah keluar dari Syndrome inii kuncinya cuma satu gimana kita mau bekerjasama dan bertahan memastikan "dia" yang kita bilang satu-satunya tetep punya komitmen sama kita sampe waktu yang tidak ditentukan :)
that's all
Terimakasih telah membaca.

0 Komentar