Hello everyone!
Siapa yang sangat suka membaca tulisan atau artikel mengenai filsafat? Kalo suka mungkin engga asing dengan yang namanya filosofi "stoicism" atau stoikisme. Stoicism atau stoa atau stoikisme adalah sebuah filsafat yang mengajarkan kita untuk bisa mengontrol emosi pada diri kita. Filosofi ini sangat terkenal dengan istilah Filosofi Teras. Belajar tentang filosofi stoicism itu berarti kita juga belajar bagaimana untuk mengatasi cemas yang seringkali muncul dalam otak kita. Salah satu pembelajaran penting pada stoicism atau filosofi teras ini ialah "Dikotomi Kendali".
Yup dikotomi kendali (dhicotomi of control) ini sangat erat hubungannya dengan stoicism. Dikotomi kendali adalah dimana dalam hidup ini ada sesuatu atau hal-hal yang berada dibawah kendali kita, ada juga hal-hal yang tidak berada dibawah kendali kita. Para filusuf stoa sangat percaya pada prinsip ini, karena prinsip ini didasarkan pada kebenaran dan realitas.
Inti dari dikotomi kendali ini adalah menunujukkan kita pada sesuatu yang harus kita tekuni (what you focus on?). Let's see hal-hal apa aja yang sebenernya ada dalam dikotomi kendali ini.
Pertama, hal-hal yang berada dibawah kendali kita itu tindakan dan pikiran diri kita sendiri. Contoh: opini, persepsi, tujuan, keinginan; mau makan apa hari ini, mau pergi kemana, mau kuliah dimana setelah lulus sekolah. Again, semuanya berada dibawah kendali diri kita berdasarkan tindakan dan pikiran.
Kedua, hal-hal yang bukan dibawah kendali kita seperti kelahiran kita di dunia, keadaan cuaca, pacar yang selingkuh, omongan tetangga, guru atau dosen yang galak. Semua terjadi diluar kendali diri kita yang mungkin bisa kita usahakan agar keadaan sesuai dengan keinginan. Namun sebagai manusia biasa kita juga perlu tau, ada banyak faktor yang engga bisa kita rubah atau bukan menjadi kendali diri kita.
Rezeki, keberuntungan, popularitas kita di dunia semua atas kuasa/ kehendak Tuhan. Stoisisme mengajarkan sebuah pelajaran pada diri kita agar mampu hidup selaras dengan alam tanpa sedikitpun menyalahkan kehendak Tuhan. Jadi apa yang bukan kehendak-Nya harus benar-benar bisa kita terima dengan baik. Karna sebenernya kita harus bisa mengendalikan suatu kebahagian yang sifatnya hanya sementara atau sewaktu-waktu bisa pergi tanpa aba-aba. Jadi, apapun yg kita lakukan itu terkadang banyak dari faktor eksternal yg menentukan sukses atau tidak nya sesuatu yg kita lakukan tadi. Dan yang harus dilakukan oleh manusia adalah menerima apapun yang terjadi diluar kendali diri.
Orang yang hidup dalam kehidupan "stoa" biasanya hidup nya akan lebih bahagia. Orang-orang stoik bisa happy, sedih, marah dan lain sebagainya tanpa perlu bersembunyi dibalik wajah yang kosong tanpa ekspresi. Artinya, emosi yang muncul dan dirasakan oleh orang-orang stoik memang berasal dari alam, namun mereka bisa mengendalikannya sehingga tidak kewalahan sendiri atas emosinya.
Banyak yang mengira bahwa ajaran stoisisme ini mempengaruhi diri agar menutupi emosi atau rasa sakit yg kita hadapi. Bukan. Bukan seperti itu maksudnya. Filososfi teras atau stoicism dibuat dengan tujuan agar diri kita mampu berdialog kepada diri sendiri ketika emosi atau rasa sakit itu datang. Kita analisis sebagai contoh;
Ketika seorang mahasiswa dimarahi oleh dosen karna kesalahan nya dalam mengerjakan tugas, lalu menurut kalian apa yg dilakukan oleh mahasiswa tersebut? Sudah pasti dia menggeram dalam otaknya, ada penolakan dalam dirinya dan cenderung tidak menerima . Tapi yang seharusnya dilakukan ialah refeleksi diri. Refleksi diri disini yaitu berusaha bertanya-tanya pada diri kita apa sih yg salah? Kenapa bisa salah? dll, dengan begitu emosi tersebut berada dalam kendali kita. Selebihnya seperti omelan dosen, bukan menjadi kendali kita.
Keadaan seperti contoh diatas bukan mendorong manusia untuk bersikap pasrah pada sebuah keaadan. Tetapi melatih manusia untuk mencintai apa yang bukan menjadi takdir nya.
Lalu bagaimana kita sebagai manusia yang mudah terbawa emosi negatif bisa memaknai atau melatih diri kita untuk bisa menerima dikotomi kendali ini?
1. Fokus
Fokus akan membuat diri kita tau mana yang lebih penting, mana yang lebih bikin diri kita bahagia. Seperti yang sudah dijelaskan diatas, bahwa kita harus menerima apa yang bukan menjadi takdir untuk diri kita.
2. Mencitai takdir
Cintai apa yang sudah dan tidak ditakdirkan untuk diri kalian. Karena filosofi teras selalu mengajarkan kita untuk tidak mencampurkan segala emosi negatif kepada sesuatu yang tidak terjadi pada hidup kita. It's mean jangan melebih-lebihkan emosi kita terhadap sesuatu. Bisa jadi emosi yang kita miliki itu penyebab nya datang dari diri kita sendiri.
3. Bahagia.
Ini terakhir. Kenapa bahagia? setelah kita mencintai takdir kita dan menerima sepenuhnya bahwa banyak hal yang bukan ditakdirkan untuk kita, kita bisa jauh lebih bahagia. Karena semua dilakukan tanpa membawa emosi jiwa dengan didorong oleh cara berfikir yang lebih jernih, dan kebahagian itu tidak atau bukan bergantung terhadap sesuatu yang tidak bisa kita kendalikan.
Sebagai penutup, ada sebuah kalimat yang menjadi cacatan penting untuk diingat;
Orang-orang Stoik percaya bahwa emosi negatif yang menghancurkan manusia itu dihasilkan dari keputusan yang salah.
that's all
Terimakasih telah membaca.
0 Komentar